Permasalahan komunikasi antara anak dan orang tua nyatanya masih seringkali terjadi di dalam keluarga. Padahal, penerapan komunikasi yang kurang baik niscaya membuat hubungan anak dan orang tua menjadi tak harmonis hingga “rusak” secara psikologis. Demikian diungkapkan oleh Bapak Tony Chen pembicara dalam webinar Sekolah Regina Pacis Jakarta bertajuk “The Art Of Parents Communication” pada Sabtu, (16/5/2020) dan Sabtu, (23/5/2020) via aplikasi Zoom.

Bapak Tony beranggapan para orang tua sejatinya memiliki peran penting di lingkungan keluarga guna kehidupan yang lebih baik. Panggilan sebagai orang tua merupakan suatu panggilan terbaik yang telah diberikan oleh Sang Khalik. Dari panggilan tersebut, para orang tua memiliki andil dalam mendidik anak menjadi baik dan sukses di masa depan. “Tidak ada juara dunia, orang hebat, dan berprestasi tanpa campur tangan para orang tua yang hebat. Keberadaan orang tua sangat menentukan keberhasilan seorang anak,” ujarnya lantang.

Oleh sebab itu, pria berkacamata itu mengatakan filosofi mengedukasi anak yang baik sangat dibutuhkan sebagai proses berkelanjutan dalam dunia pendidikan. Setiap upaya mendidik anak mesti dilandasi dengan kemampuan seni berkomunikasi secara efektif. “Tanamkanlah, saya tidak sedang membesarkan anak, tetapi saya sedang melahirkan atau membangkitkan generasi masa depan,” pungkas Bapak Tony.

Generasi masa depan yang Bapak Tony maksud ialah para penerus bangsa dengan kemampuan dinamis dalam menanggapi perputaran arus modernisasi. Ia menilai acapkali tidak semua orang tua mampu membimbing anaknya berbasis masa mendatang. “Padahal pola pengasuhan sejati itu tidak hanya mendidik, tetapi mempersiapkan masa depan,” jelasnya. Sebab, lanjut Bapak Tony, pada abad 21 kini telah memasuki era conceptual age; baik concept based, creativity and innovation, stiff competition, dan leadership skills.

Sebagaimana kemampuan yang dibutuhkan pada tahun 2020 menurut World Economic Forum (WEF), antara lain, complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with others, emotional intelligence, judgment and decision making, service orientation, negotiation, dan cognitive flexibility. Menurut Bapak Tony, segala kepiawaian tersebut secara bertahap harus diwujudkan kepada anak melalui bimbingan dan pengajaran oleh pihak sekolah dan orang tua. “Tentu, pendidikan yang melibatkan pihak sekolah dan orang tua supaya ada sinergisitas yang baik,” tuturnya.

Di samping itu, Bapak Tony membeberkan salah satu hasil penelitian tentang kemampuan di masa depan terkait enam kecerdasan baru yang diterbitkan oleh Rumah Perubahan, sebagai berikut:

  • Technological Intelligence:
    Kecerdasan dalam memahami dan memanfaatkan kekuatan kecepatan teknologi yang muncul dengan sangat cepat serta segala dampaknya.

  • Social & Emotional Intelligence:
    Kecerdasan menghidupi nilai-nilai positif dalam bekerja yang mampu mempengaruhi orang lain.

  • Contextual Intelligence:
    Kecerdasan memahami dan menganalisis konteks suatu peristiwa hanya dengan satu kedipan mata.

  • Moral Intelligence:
    Kecerdasan dalam mencapai semua tujuan dengan integritas dan moralitas.

  • Generative Intelligence:
    Kecerdasan menangkap banyak peluang dengan melahirkan ide-ide baru dan berorientasi ke masa depan.

  • Explorative – Transformational Intelligence:
    Kecerdasan dalam menentukan kebutuhan di masa depan dan cara untuk mencapainya.

Dari sejumlah kemampuan terkait enam kecerdasan baru, Bapak Tony sangat menghendaki agar hal tersebut diwujudkan dalam pola pengasuhan guna menyiapkan jalan sukses bagi anak. “Pada akhirnya, kunci luar biasa untuk keberhasilan seorang anak dipengaruhi campur tangan positif dari orang tua. Sekali lagi, jangan fokus pada perilaku anak, tapi perhatikan masa depan anak,” katanya. Lebih lanjut, ia menghimbau supaya orang tua tidak melakukan kesalahan fatal dalam merespon perilaku anak yang barangkali kurang baik.

“Kesalahan fatal itu meliputi, too much reaction (reaksi berlebihan dan fokus hanya kepada perilaku anak dan segala akibatnya); less investigation (tidak mampu atau tidak mau mencari akar permasalahan dari suatu perilaku); dan less symptom indetification (orang tua tidak memiliki atau kurang peka ketika melihat gejala dari sebuah perilaku),” jelas pria yang menjabat sebagai Leadership Coach and Trainer di Life Talk Asia.

Pokok Seni Berkomunikasi
Setidaknya terdapat tiga pilar komunikasi (3K) efektif antar anak dan orang tua, yaitu konteks, konten, dan kontrol. Ketiga pilar tersebut memiliki relevansi dalam hubungan komunikasi yang efektif di dalam keluarga (anak dan orang tua-red). “Konteks yaitu peran orang tua dalam memahami, mengarahkan, serta membimbing anak dengan tujuan dan momen yang tepat; lalu Konten memiliki fungsi peran orang tua untuk mengajar dan mendidik anak dengan menarik, memberi semangat, dan menginspirasi; terakhir Kontrol memiliki fungsi peran orang tua untuk tidak pantang menyerah, menyuruh, dan marah-marah dalam mendidik anak yang baik,” urai Bapak Tony.

Selain itu, ia menjelaskan adapun jenjang komunikasi efektif antara orang tua dan anak meliputi mouth to mouth, head to head, heart to heart, dan faith to faith. Jenjang komunikasi tersebut pun niscaya perlu diimplementasikan agar hubungan kedua belah pihak dapat berjalan dengan efektif. Setelah mempraktikkan berbagai unsur seni berkomunikasi, Bapak Tony menyarankan para orang tua ada baiknya bisa menelusuri sejumlah kemampuan anak sesuai minat dan bakatnya (multiple intelligences). “Seperti, musical (music smart), bodily-kinesthetic (body smart), interpersonal (people smart), verbal linguistic (word smart), logical mathematical (logic smart), naturalistic (nature smart), intrapersonal (self smart), dan visual spatial (picture smart),” jelasnya.

Dorongan demi dorongan para orang tua demi menemukan minat dan bakat anak perlu sekali diupayakan secara baik. Menurut Bapak Tony, semua anak membutuhkan bantuan dan harapan dari seorang orang tua guna menumbuhkan kepercayaan diri. Oleh sebab itu, para orang tua sebisa mungkin menghindari menjadi toxic parents. “Seperti ekspektasi berlebihan kepada anak, membicarakan keburukan anak, egois, melakukan tindakan kekerasan verbal atau fisik, dan selalu menyalahkan anak,” ungkapnya.

Bapak Tony mengatakan jika anak telah menjadi korban toxic parents tentu “ia” akan tersiksa secara mental, pembangkang, mengalami stres berkepanjangan, dan menderita sakit fisik/mental. Para orang tua adalah role models utama untuk anak-anak. “Jangan segala sesuatu dalam pendidikan itu diserahkan ke sekolah, tetapi orang tua pun memiliki andil penting guna perkembangan dan kemajuan anak lebih baik,” ujarnya.

Seiring waktu berjalan, situasi pandemi masih saja berlangsung hingga kini. Seluruh dunia telah dibuat gempar bukan kepalang oleh coronavirus. Bagi Bapak Tony, hal tersebut seharusnya menjadikan kita senantiasa berefleksi terhadap setiap perubahan kondisi sekitar. “Bukanlah orang yang terkuat dan terpintar. Namun, orang yang mampu responsif terhadap perubahan itulah yang akan bertahan,” katanya. Ia pun bertanya kepada para orang tua, “Apakah kita semua siap mengalami perubahan kini?” Hal ini menjadi tanda tanya besar bahwa orang tua wajib membimbing anak dengan fleksibel, dinamis, dan efektif. “Hai orang tua kalian adalah pelatih bagi anak-anak Anda, jadilah pelatih baik untuk masa depan anak yang gemilang.”