Usia remaja merupakan masa transisi seorang anak menuju puncak kedewasaan. Sebab, masa perkembangan remaja kelak akan mengalami berbagai penyesuaian diri di lingkungan sekitarnya, baik terhadap nilai-nilai norma, etika, adat istiadat, dan aturan-aturan lain yang tumbuh di masyarakat umum.

Berbicara generasi remaja kini, tentunya tak bisa disamakan dengan generasi remaja lampau. Setiap generasi memiliki karakteristiknya masing-masing selaras dengan peradaban zaman yang kian pesat.

Periode remaja sejatinya usia yang menentukan kesuksesan seorang individu di masa mendatang. Kunci kesuksesan seorang anak remaja juga tak luput dari perhatian dan bimbingan para orang tua. “Apabila orang tua mendidik anak remaja dengan tepat, kemungkinan ke depan anaknya bisa sukses,” pungkas Tony Chen, dalam acara seminar parenting online “Komunikasi yang Meningkatkan Prestasi” yang diadakan Sekolah Regina Pacis Jakarta, pada Sabtu (18/4/2020) dan Sabtu (25/4/2020) via aplikasi Zoom.

Ia menyampaikan mendidik anak remaja ialah proses berkelanjutan yang perlu didasari sikap saling mengerti dan memahami antar kedua belah pihak (remaja dan orang tua-red). Keberadaan orang tua sangat menentukan keberhasilan seorang anak remajanya. Oleh karena itu, para orang tua harus mempunyai kemampuan mendidik melalui komunikasi yang baik. “Tidak ada seorang juara dunia yang tidak didampingi oleh orang tua. Orang tua punya andil penting dalam membentuk jalan sukes anak remajanya,” kata Tony, sapaan karibnya.

Namun, Tony membeberkan acapkali di dalam keluarga terjadi lack of communication skills yaitu ketidaktahuan berkomunikasi antara orang tua dan anak remajanya secara baik. Untuk itu, orang tua perlu memahami “Better understand your teen in order to connect and thrive.” Orang tua mau mengerti anak remajanya dengan tujuan tercipta koneksi, sehingga kedua belah pihak bisa saling membangun satu sama lain.

Selain itu, pertumbuhan anak juga dipengaruhi oleh perkembangan otak atau disebut dorsal lateral prefrontal cortex (bagian otak yang berfungsi sebagai penentu pertumbuhan perilaku anak). Ketika anak tumbuh menjadi usia remaja (13 – 22 tahun) lazimnya anak remaja akan mengalami perilaku pembangkangan, perilaku unrealistic, dan tidak dapat diprediksi terkait isi hati anak. “Yang harus diterapkan orang tua ialah membangun komunikasi yang efektif bersama anak remajanya,” tutur pria yang menjabat sebagai Leadership Coach and Trainer di Life Talk Asia.

Sebagaimana yang dipaparkan oleh Tony terkait cara berkomunikasi yang baik antar orang tua dan anak remajanya melalui tabel berikut:


Dari petunjuk singkat mengenai komunikasi efektif tersebut, ia menambahkan adapun jenjang komunikasi yang mesti dibina antar orang tua dan anak remajanya, meliputi mouth to mouth, head to head, heart to heart, dan faith to faith. Menurut Toni, sedianya para orang tua juga senantiasa mendidik anak remaja dengan penyelarasan perkembangan zaman. “Seperti, iteration (membuat hal yang sama lebih baik), innovation (membuat hal baru), dan disruption (membuat banyak hal baru sehingga hal lama membuat ketinggalan zaman/tidak terpakai),” jelas pria berkacamata itu.

Seiring perkembangan zaman segala segala lini kehidupan—ruang dan waktu—telah mengalami fase transisi distruptif. Hal itu ditandai dengan maraknya pelbagai teknologi otomatisasi mutakhir yang secara berlanjut timbul ke permukaan khalayak, salah satunya di era Revolusi Industri 4.0. Bagi Tony, fenomena itu mewajibkan orang tua untuk mengedepankan pendidikan dengan menerapkan conceptual age/ worker.

Lebih dari pada itu, World Economic Forum (WEF) telah memberikan data berupa informasi terkait kemampuan yang dibutuhkan di tahun 2020, antara lain complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with others, emotional intelligence, judgment and decision making, service orientation, negotiation, dan cognitive flexibility.

Perputaran arus modernisasi sangatlah dipengaruhi oleh setiap kemampuan manusia. Tony berharap kepada para orang tua untuk selalu berbenah dan berubah dalam mendidik anak menjadi lebih baik. “Sematkan sejumlah pertanyaan untuk anak, ‘Why do you live, the biggest thing you want to achieve in life, and the greatest thing you want to leave for the world?’. Jadikan itu sebagai bahan dialog bersama anak guna membina komunikasi yang lebih baik,” harap Tony. “Semoga kita semua dapat memperbaiki cara berkomunikasi untuk mempersiapkan jalan menuju sukses bagi anak-anak kita.”